Pembunuhan Berencana, Berkasnya Bolak Balik, Kenapa Ya?


Kasus pembunuhan berencana, seperti yang dituduhkan Polisi dan Jaksa Penuntut Umu-JPU kepada Jesicca Kumala Wongso sudah dikembalikan lima kali, karena Jaksa menilai belum lengkap.

Kasus pembunuhan berencana ini sendiri sempat menghebohkan publik di Tanah Air, ketika media bersahut-satutan mengangkat berita ini menjadi berita nasional, tak ketinggalan madia cetak, media sosial, televisi memberitakannya berulang kali.

********

Sangkaan Terhadap Jessica

Namun demikian, Polda Metro Jaya menyidik pelaku pembunuhan dengan pasal 340 (KUHP) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Dalam pasal 340, disebutkan sebagai berikut:

“Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana terdahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun” .

Dari pasal di atas, dapat dicermati unsur-unsur Pasal 340 KUHP Pertama, unsuer subjek hukum, disebutkan, “Barangsiapa,” merujuk ke orang, dalam hal ini pelaku. Dengan kata lain, barang siapa merupakan unsur subjek hukum yang berupa orang per orang dan atau badan hukum sebagai pelaku tindak kejahatan,

Unsur kedua, “Dengan Sengaja: menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “dimaksudkan (direncanakan); memang di-niatkan begitu; tidak secara kebetulan”. Selanjutnya dalam, Oxford dictionary, disebutkan “A thing intended; an aim or plan: she was full of good intentions”. Dengan demikian, makna dengan sengaja mengetahui dan menghendaki, maksudnya mengetahui perbuatannya dan menghendaki akibat dari perbuatannya untuk mencapai tujuannya secara sadar.

Ketiga, “Dengan Rencana, artinya, yang membedakan pasal ini dengan pasal lainnya dalam penerapan nya, pasal 340 KUHP ini harus memuat unsur yang direncanakan (VoorbedachteRaad)/. Unsur perencanaan berarti di-desain beberapa rangkaian kegiatan secara terencana terlebih dahulu sebelum kejadian. Dengan kata lain, pelakunya telah menyusun dan mempertimbangkan secara seksama tindakan yang akan di lakukan, dengan tujuan tertentu dari rencana itu, disamping itu juga harus mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan tentang akibat- akibat dari perbuatannya, juga harus terdapat jangka waktu tertentu dengan penyusunan rencana, tempat kejadian direncanakan, pelaksanaan rencana. Jadi ada kronolgi kejadian sebelum pelaku melaksanakan pembuatannya.

Dengan demikian, . Dalam hukum pidana di Tanah Air “per-tanggung-jawaban” merupakan konsep utama yang dikenal dengan ajaran kesalahan. Cara penanggulangan kejahatan apakah preventive atau repressive. Bagi yang melakukan perbuatan pidana, unsur kesalahan dapat dilihat empat bagian: melakukan perbuatan pidana; mampu bertanggung jawab; dengan sengaja atau alpa; tidak kejadian terpaksa sebagai alasan pemaaf .

Karena ketiga unsur di atas memerlukan pembuktian, maka dalam pidana, sesorang disangka melakukan tindak pindana sekurang-kurangnya dua alat bukti. Undang-undang nomor 8 Tahun 1981, Pasal 183 KUHAP disebutkan penentuan pidana kepada terdakwa, karena kesalahannya harus terbukti dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah;. Dengan kata lain, hakim memperoleh keyakinan bahwa tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwa lah yang bersalah melakukannya.

Selanjutnya, dalam UU yang sama, alat-alat bukti yang sah menurut pasal 184 ayat (1) KUHAP:(1)   Keterangan saksi (2)   Keterangan ahli (3)   Surat-surat (4)   Petunjuk (5)   Keterangan terdakwa. Dalam sidang Hakim wajib memperlihatkan barang bukti. Dalam Pasal 181 KUHAP majelis hakim wajib memperlihatkan kepada terdakwa segala barang bukti dan menanyakan kepadanya apakah ia mengenali barang bukti tersebut.

Alat-alat bukti dalam HIR dilukiskan dalam pasal 295 HIR. Alat bukti sah menurut ketentuan Pasal 295 HIR, adalah : Ketentuan saksi (kesaksian) ; Surat-surat; Pengakuan, dan Tanda-tanda atau penunjukan.

Fungsi barang bukti dalam sidang pengadilan adalah sebagai berikut: Menguatkan kedudukan alat bukti yang sah (Pasal 184 ayat [1] KUHAP); Mencari dan menemukan kebenaran materiil atas perkara sidang yang ditangani; Setelah barang bukti menjadi penunjang alat bukti yang sah maka barang bukti tersebut dapat menguatkan keyakinan hakim atas kesalahan yang didakwa kan JPU.

********

Analisis Kasus Kejahatan Terhadap Mirna Salihin

 Penjelasan di atas, dan ketiga unsur pasal 340 KUHP ini akan ijadikan bahan selanjutnya untuk membahas kasus Jessica Kumala Wongso.

Kepolisian Polda Metro, 30 Januari 2016, resmi menetapkan Jessica Kumala Wongso sebagai tersangka dalam kasus dugaan pembunuhan Wayan Mirna Salihin. Jessica menjadi salah satu aktor ter tuduh dalam kasus kejahatan ini, setelah menjadi saksi kematian Wayan Mirna Salihin di Kafe Olivier, Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Rabu, 6 Januari 2016. Saat sedang berkumpul, Mirna mendadak kejang-kejang dan akhirnya tewas, setelah meminum kopi Vietnamesse yang dipesankan Jessica untuknya.

Polda Metro Jaya yakin benar bahwa kopi yang dipesan oleh Jessica menjadi penyebab kematian Mirna. Apa lagi kopi tersebut bukan kopi biasa, kopi luas biasa. Polisi menemukan zat beracun di dalam kopi yang diminum Mirna.[1] Hasil autopsi korban yang terbukti tewas karena di racun pakai sianida, sejalan dengan hasill Otopsi juga menemukan Es kopi Vietnam yang di minuman Mirna Salihin sudah dicampur sianida dan sejumlah barang bukti lainnya,[2] Apa lagi, kata Krisna, penyidik Polisi pada Polda Metro Jaya mengatakan, setelah pemilik meneteskan di lidah kopi yang di teguk Mirna Salihin, membuat muntah-muntah pemilik kafe dan mual.[3]

Persoalan barang siapa sebagai pelaku pembunuh Mirna Salihin belum final, karena sampai sejuah ini berkas BAP Jessica masih bolak balik. Namun demikian, Polda Metro Jaya sampai sejauh ini sudah memperlihatkan bagiamana, Jessica merencanakan pembunuhan terhadap Mirna Salihin dengan asumsi memberikan rancun sianida (CN) kedalam kopi. Unsur zat ini memang mematikan, biasa digunakan sebagai racun ikan dan digunakan dalam pemisahan emas.

Memang benar unsur ini mematikan, lantaran sasarannya, hanya seorang, kopi yang diminum Mirna Salihin, kenapa kopi temannya yang lain tidak masukkan unsur serupa, sementara mereka ada ber-empat. Hal ini menimbulkan curiga, bahwa pembunuhan ini direncanakan dengan sasaran satu orang.

Unsur rencana lainnya, jika benar Jessica, pada saat man ia memasukkan CN setelah dibuat pelayan kafe tersebut atau sebelum. Hal ini masih menggunakan logika, Jessica memesan semua minuman itu, pelayan kafe itu memberikan kepada Jessica, bukan kepada Mirna yang diletakkan di Meja yang di Booking Jessica. Sebagai pemesan, Jessica lah yang memberikan minuman ini kepada Mirna Salihin.

Rekaman CCTV memperlihatkan, Jessica sudah ada di kafe itu, satu jam sebelum Mirna dan Hani hadir di sana dan memesan kopi itu atas namanya sendiri. [4] Ada unsur sengaja atau upaya-upaya untuk menghalangi CCTV, sehingga diperkirakan tersangka memang tidak ingin perbuatannya diketahui., dan menghilangkan bukti lain, seperti celana dalam ini dinilai menjadi barang bukti. Di luar itu, Pemesan Kopi adalah Jessica, hal ini berarti, pelayan pasti memberikan kopi kepada pemesan. Dari sini ada unsur terenecana.

Penyebab kematian Mirna Es Kopi. Keterangan sejumlah saksi mata dan sejumlah saksi lainnya, yang sudah menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, bahwa kopi itulah yang menyebabkan kematian Mirna, karena setelah diteguk, karena Mirna Salihin sempat menyampaikan seperti diceritakan Hani, saksi mata,” Mirna kemudian menyeruput kopinya. ” It’s awful, it’s so bad,” . [5]

Tetapi apakah benar Jessica yang memasukkan racun CN kedalam gelas kopi dengan sengaja ke Es Kopi yang diminum Mirna, belum terungkap terang. Hanya saja, Polda Metro Jaya sudah menyediakan bukti keterangan saksi, bukti petunjuk, surat-surat berupa whats up sebelum kejadian, keterangan Ahli Foresik. Namun demikian keterangan Ahli Psychology dari hasil test, tidak terbukti Jessica berbohong, dan Jessica sendiri tidak mengakui perbuatannya.

Jaksa penuntut umum sendiri, sampai sejauh ini belum yakin dengan alat bukti yang menjadi penuntutan. Terbukti, bekas BAP Jessica sudah lima kali bolak balik dinyatakan belum lengkap. Pertanyaannya, kenapa Jaksa Penutut Umum belum yakin. Uhm..um,,jangan,,,jangan. Ah, kita percayalah untuk sementara.

Akhirnya, mari kita menunggu babak baru, keterangan lain yang ditunggu adalah, keyakinan Hakim yang akan mengadili perkara.

 

 

 

 

[1] Tempo, Rabu, January 13, 2016,   Ahli Forensik Menduga Mirna Dibunuh, Begini Skenarionya   retrived from https://m.tempo.co/read/news/2016/01/13/064735497/ahli-forensik-menduga-mirna-dibunuh-begini-skenarionya

[2] Tempo, Selasa 23 February, 2016, Kasus Mirna, Pengacara Jessica: Ada Saksi Rahasia & Heboh retrieved from: https://m.tempo.co/read/news/2016/02/23/064747317/kasus-mirna-pengacara-jessica-ada-saksi-rahasia-heboh

[3] Tempo, 11 January 2016, Kopi Mirna Tidak Dipesan Sendiri oleh Korban, retrieved from: https://m.tempo.co/read/news/2016/01/11/064734776/kopi-mirna-tidak-dipesan-sendiri-oleh-korban

[4] Tempo, 11 January 2016, Kopi Mirna Tidak Dipesan Sendiri oleh Korban, retrieved from: https://m.tempo.co/read/news/2016/01/11/064734776/kopi-mirna-tidak-dipesan-sendiri-oleh-korban

[5] Tempo, 21 January 2016, Jessica Teman Mirna Ditanya Polisi: Alasan Buang Celan, retrieved from: https://m.tempo.co/read/news/2016/01/21/064738046/jessica-teman-mirna-ditanya-polisi-alasan-buang-celana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s