Ini Bukan Kedung Ombo

http://www.majalahtrust.com/indikator/kronik/183.php

Ini Bukan Kedung Ombo
Setelah diketahui lokasi bakal PLTA itu bermasalah, dari sisi hukum maupun lingkungan, mestinya pemerintah mencarikan alternatif, bukan memaksakan.

Andrianto Soekarnen, Parlindungan Sibuea
Kedung Ombo kedua dikhawatirkan akan muncul di Sulawesi Tengah, tepatnya di tenggara Kota Palu. Empat desa di sekitar Danau Lindu di kawasan Taman Nasional Lore Lindu akan digenangi air guna menjalankan pembangkit listrik yang akan dibangun. Senin pekan lalu, sekitar 100 warga empat desa itu—Puroo, Langko, Tomado, dan Anca—yang tergabung dalam Komite Solidaritas Penolakan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Lore Lindu unjuk rasa.

Demo tersebut, esok harinya mendapatkan tandingan. Sejumlah penarik ojek, warga Lindu, dan beberapa mahasiswa menyatakan mendukung rencana pemerintah membangun PLTA itu. Menurut Jufri M. Saleh, pentolan aksi itu, pembangunan PLTA adalah tuntutan warga Palu yang sudah disetujui oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.
Sesungguhnya, aksi demo balas-membalas seperti ini telah berlangsung sejak awal 1990-an, ketika PLTA yang dulu disebut PLTA Palu 3, direncanakan. Ketika itu sudah diperhitungkan, kebutuhan setrum untuk Palu dan sekitarnya bakal meningkat, dan karena itu perlu pembangkit listrik tambahan. Waktu itu, Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Silae masih mampu memenuhi kebutuhan warga Palu. Itu sebabnya, begitu muncul pro dan kontra, proyek yang dulu dinamakan PLTA Palu 3 dihentikan pada 1993. Lagi pula, izin pembangunan PLTA ini belum juga diperoleh. Salah satu sebabnya, dokumen Amdal yang dikirimkan ke Kementerian Lingkungan Hidup tak kunjung disetujui.

Ternyata perhitungan PLN Sulawesi Tengah itu benar. Sejak beberapa lama lalu di Palu dan sekitarnya terpaksa diadakan pemadaman listrik bergilir. Kebutuhan setrum di kota madya ini telah melebihi kemampuan PLN. Diperlukan 97 megawatt listrik untuk memenuhi kebutuhan 211.000 pelanggan. Maka, PLTD Silae harus diputar maksimal, melebihi kewajaran. Begitu pun, yang dihasilkannya baru 91 megawatt. Memang, ada banyak pembangkit listrik mikrohidro, tapi tak cukup untuk mengurangi beban PLTD Silae. Umar Hadi, Kepala PLN Palu, berulang kali meminta pengertian masyarakat bahwa pemadaman bergilir harus dilakukan agar mesin-mesin diesel pembangkit listrik PLN tidak cepat aus.

Sesungguhnya, secara hukum, PLTA Lore Lindu menghadapi tembok tebal. Lokasi PLTA yang dirancang akan berada dalam zona inti Taman Nasional Lore Lindu melanggar Undang-Undang Konservasi Tahun 1990. Setahun setelah proyek dihentikan, 1994, Dewan Riset Nasional yang ketika itu diketuai B.J. Habibie menilai rencana pembangunan PLTA tersebut tidak layak.

Selain itu, menurut Harley, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulawesi Tengah, PLTA tersebut berada di jalur patahan gempa. Jadi akan percuma saja PLTA itu, karena tidak akan berumur panjang akibat dibangun di lokasi yang labil. ”Setiap tahun terjadi pergeseran patahan di daerah itu,” kata Harley.

Direktur Walhi Sulawesi Tengah itu tak hanya mengkritik. Ia juga memberikan alternatif. Katanya, aliran air terjun Solewana di Sungai Poso merupakan pilihan yang jauh lebih baik untuk sebuah PLTA. Apalagi, menurut perhitungannya, energi yang dibangkitkan oleh air terjun itu bisa sampai 200 megawatt, sedangkan yang di Taman Nasional Lore Lindu hanya mampu memproduksi 70-an megawatt.

Dibutuhkan keterbukaan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk memecahkan masalah kekurangan setrum ini. Mestinya, bila tak ada kepentingan-kepentingan pribadi atau kelompok, soal ini mudah dipecahkan. Misalnya, melakukan studi kelayakan membangun PLTA di air terjun Solewana itu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s